Skip to content

PEMBAGIAN WARISAN DALAM ADAT BATAK TOBA

Juni 7, 2009


Bangsa Indonesia memiliki keragaman suku dan budaya. Letak geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menyebabkan perbedaan kebudayaan yang mempengaruhi pola hidup dan tingkah laku masyarakat. Kita dapat melihat hal ini pada suku-suku yang terdapat di Indonesia. Salah satu contohnya adalah suku Batak. Suku batak terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu batak toba, batak simalungun, batak karo, batak pakpak dan batak mandailing. Dalam hal ini Saya mengambil pembahasan tentang batak toba.

Masyarakat Batak Toba yang berada di wilayah dataran tinggi Batak bagian Utara merupakan suatu suku yang terdapat di provinsi Sumatera Utara. Dalam masyarakat Batak Toba, dibagi lagi dalam suatu komunitas seperti sub suku menurut dari daerah dataran tinggi yang didiami. Seperti wilayah Silindung yang di dalamnya masuk daerah di lembah Silindung yaitu Tarutung, Sipahutar, Pangaribuan, Garoga dan Pahae. Daerah Humbang diantaranya Dolok Sanggul, Onan Ganjang, Lintong Ni huta, Pakkat dan sekitarnya. Sementara Toba meliputi Balige, Porsea, Samosir, Parsoburan dan Huta Julu.

Dari ketiga daerah Batak Toba tersebut, juga memiliki perbedaan dalam hal adat – istiadat juga, diantaranya perbedaan dalam tata adat perkawinan, pemakaman juga dalam pembagian warisan. Dan dalam adat – istiadat juga ada beberapa daerah yang sangat patuh terhadap dalam adat atau dengan kata lain adat – istiadat nya sangat kuat, itu dikarenakan daerah dan keadaan daerah yang masih menjunjung tinggi sistem adat- istiadat. Daerah yang sangat menjunjung tinggi adat – istiadat tersebut adalah masyarakat daerah Humbang dan daerah Toba. Masyarakat ini biasanya selalu mempertahankan kehidupan dari budaya dan adat – istiadat mereka.

Masyarakat Batak yang menganut sistim kekeluargaan yang Patrilineal yaitu garis keturunan ditarik dari ayah. Hal ini terlihat dari marga yang dipakai oleh orang Batak yang turun dari marga ayahnya. Melihat dari hal ini jugalah secara otomatis bahwa kedudukan kaum ayah atau laki-laki dalam masyarakat adat dapat dikatakan lebih tinggi dari kaum wanita. Namun bukan berarti kedudukan wanita lebih rendah. Apalagi pengaruh perkembangan zaman yang menyetarakan kedudukan wanita dan pria terutama dalam hal pendidikan.

Dalam pembagian warisan orang tua. Yang mendapatkan warisan adalah anak laki – laki sedangkan anak perempuan mendapatkan bagian dari orang tua suaminya atau dengan kata lain pihak perempuan mendapatkan warisan dengan cara hibah. Pembagian harta warisan untuk anak laki – laki juga tidak sembarangan, karena pembagian warisan tersebut ada kekhususan yaitu anak laki – laki yang paling kecil atau dalam bahasa batak nya disebut Siapudan. Dan dia mendapatkan warisan yang khusus. Dalam sistem kekerabatan Batak Parmalim, pembagian harta warisan tertuju pada pihak perempuan. Ini terjadi karena berkaitan dengan system kekerabatan keluarga juga berdasarkan ikatan emosional kekeluargaan. Dan bukan berdasarkan perhitungan matematis dan proporsional, tetapi biasanya dikarenakan orang tua bersifat adil kepada anak – anak nya dalam pembagian harta warisan.

Dalam masyarakat Batak non-parmalim (yang sudah bercampur dengan budaya dari luar), hal itu juga dimungkinkan terjadi. Meskipun besaran harta warisan yang diberikan kepada anak perempuan sangat bergantung pada situasi, daerah, pelaku, doktrin agama dianut dalam keluarga serta kepentingan keluarga. Apalagi ada sebagian orang yang lebih memilih untuk menggunakan hukum perdata dalam hal pembagian warisannya.

Hak anak tiri ataupun anak angkat dapat disamakan dengan hak anak kandung. Karena sebelum seorang anak diadopsi atau diangkat, harus melewati proses adat tertentu. Yang bertujuan bahwa orang tersebut sudah sah secara adat menjadi marga dari orang yang mengangkatnya. Tetapi memang ada beberapa jenis harta yang tidak dapat diwariskan kepada anak tiri dan anak angkat yaitu Pusaka turun – temurun keluarga. Karena yang berhak memperoleh pusaka turun-temurun keluarga adalah keturunan asli dari orang yang mewariskan.

Dalam Ruhut-ruhut ni adat Batak (Peraturan Adat batak) jelas di sana diberikan pembagian warisan bagi perempuan yaitu, dalam hal pembagian harta warisan bahwa anak perempuan hanya memperoleh: Tanah (Hauma pauseang), Nasi Siang (Indahan Arian), warisan dari Kakek (Dondon Tua), tanah sekadar (Hauma Punsu Tali). Dalam adat Batak yang masih terkesan Kuno, peraturan adat – istiadatnya lebih terkesan ketat dan lebih tegas, itu ditunjukkan dalam pewarisan, anak perempuan tidak mendapatkan apapun. Dan yang paling banyak dalam mendapat warisan adalah anak Bungsu atau disebut Siapudan. Yaitu berupa Tanak Pusaka, Rumah Induk atau Rumah peninggalan Orang tua dan harta yang lain nya dibagi rata oleh semua anak laki – laki nya. Anak siapudan juga tidak boleh untuk pergi meninggalkan kampong halaman nya, karena anak Siapudan tersebut sudah dianggap sebagai penerus ayahnya, misalnya jika ayahnya Raja Huta atau Kepala Kampung, maka itu Turun kepada Anak Bungsunya (Siapudan).

Jika kasusnya orang yang tidak memiliki anak laki-laki maka hartanya jatuh ke tangan saudara ayahnya. Sementara anak perempuannya tidak mendapatkan apapun dari harta orang tuanya. Dalam hukum adatnya mengatur bahwa saudara ayah yang memperoleh warisan tersebut harus menafkahi segala kebutuhan anak perempuan dari si pewaris sampai mereka berkeluarga.

Dan akibat dari perubahan zaman, peraturan adat tersebut tidak lagi banyak dilakukan oleh masyarakat batak. Khususnya yang sudah merantau dan berpendidikan. Selain pengaruh dari hukum perdata nasional yang dianggap lebih adil bagi semua anak, juga dengan adanya persamaan gender dan persamaan hak antara laki – laki dan perempuan maka pembagian warisan dalam masyarakat adat Batak Toba saat ini sudah mengikuti kemauan dari orang yang ingin memberikan warisan. Jadi hanya tinggal orang-orang yang masih tinggal di kampung atau daerah lah yang masih menggunakan waris adat seperti di atas. Beberapa hal positif yang dapat disimpulkan dari hukum waris adat dalam suku Batak Toba yaitu laki-laki bertanggung jawab melindungi keluarganya, hubungan kekerabatan dalam suku batak tidak akan pernah putus karena adanya marga dan warisan yang menggambarkan keturunan keluarga tersebut. Dimana pun orang batak berada adat istiadat (partuturan) tidak akan pernah hilang. Bagi orang tua dalam suku batak anak sangatlah penting untuk diperjuangkan terutama dalam hal Pendidikan. Karena Ilmu pengetahuan adalah harta warisan yang tidak bisa di hilangkan atau ditiadakan. Dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan maka seseorang akan mendapat harta yang melimpah dan mendapat kedudukan yang lebih baik dikehidupan nya nanti.

About these ads
25 Komentar leave one →
  1. Anonymous permalink
    Juni 7, 2009 6:31 am

    apakah perempuan tidak mendapatkan warisan dalam masyarakat toba.
    bagaimana sistematika pembagiannya?

  2. Anonymous permalink
    Juni 7, 2009 6:32 am

    Thanks atas infonya……

  3. Rudini Silaban permalink
    Juni 12, 2009 6:19 am

    Balasan Anonim:

    Menurut Ketentuan adat pada masyarakat batak pihak perempuan tidak mendapat warisan.Akan tetapi apabila anak laki2 mau/sukarela memberi warisan bagiannya,pihak wanita bisa saja menerima warisan tersebut….
    Thanks atas komentarnya….

  4. rosmalina purba permalink
    Januari 14, 2010 3:52 am

    ga ngerti…..

  5. aliesha permalink
    April 27, 2010 5:45 am

    Thkx infonya…….

  6. heny trida permalink
    Mei 7, 2010 11:10 am

    emang benar itu, orang tua ku juga seperti itu. aq yang pernah mdapt pendidikan tentang gender ngk setuju dgn sistem seperti itu. cuman orang tua ngotot aj. disatu sisi aq bgga jadi orang batak, tapi dgn adanya sistem spt ini aq nyesal. yaaaaaaaaaa, salah siapa ya? berarti sistem adatnya harus di revisi. kebetulan judul skripsi ku ttg harta waris. salam kenal aj.

  7. Hema Anggiat Marojahan Simanjuntak permalink
    Maret 8, 2011 1:18 pm

    coba cek lagi lae….. ada yang salah ga,,,, dngn yang lu buat… ????
    thanks
    Horas

  8. Bulman Simanjuntak, SE permalink
    Mei 9, 2011 6:49 pm

    Kalo orang tua meninggalkan utang gimana itu….?

  9. kutu permalink
    Juni 6, 2011 1:52 am

    Ah, menyesal juga dilahirkan jadi orang batak, ya!

  10. Maret 18, 2012 2:57 am

    Terimakasih atas informasinya lae rudy silaban.. Saya juga mau sharing ini lae.. Saya ini anak pertama dari anak pertama opung saya (pahoppu panggoaran) tapi karna bapak saya sudah meninggal .,meraka para bapauda saya menganggap saya remeh.,kalo boleh tau.,apakah mamak saya dapat warisan nggak.? Dan sebagai pahoppu panggoaran apakah saya juga dapat bagian juga lae.. Mauliate godang. Salam

    • paul silalahi permalink
      Mei 9, 2013 12:43 pm

      pahoppu panggoaran bisa memiliki peran jika ada surat kuasa dari mama kandung (papa telah tiada) sebagai peran pewaris dalam delik hukum agar masuk dalam arena kebijakan pembagian bapauda yg mampu meminimalisir celah kecurangan dalam pembagian warisan. kUNCINYA Azas ikhlas dan saling menopang bahwa warisan yg dibagi untuk dipergunakan dan dipertanggungjawabkan dalam perjalanan hidup kelak. Mauliate.. GBU

  11. budi permalink
    Maret 24, 2012 4:39 pm

    buat gua yang kawin sama orang batak ….. adat batak masih kuat . tapi kesannya udah ketinggalan, tapi untuk hal yang positif tetap perlu dipertahankan krena itu aset daerah yang dapat dijual buat pariwisata.

  12. samuel sihombing permalink
    Maret 27, 2012 3:55 pm

    “Daerah yang sangat menjunjung tinggi adat – istiadat tersebut adalah masyarakat daerah Humbang dan daerah Toba.” lalu daerah Silindung apakah sdh tidak menjunjung tinggi lagi? bagaimana dengan hak waris bagi org batak yang beragama islam, hkm islam ato hkm adat yang digunakan?
    mauliate sebelumnya…

  13. Mei 21, 2012 4:50 am

    pada saat bagaimana warisan pada adat batak diberikan dan bagaimana jika hanya mempunyai anak tunggal laki laki….mohon penjelasannya..?

  14. Bona_tobing permalink
    Agustus 11, 2012 2:48 pm

    -sy ank tunggal dr ayh (raoul hosari) yg brmarga lumban tobing
    -semua saudara ayh sy tinggal 4 perempuan yg msih hidup, saudara laki2ny sdh meninggal
    -sebagai cucu dri anak laki2 prtma opung (sutan soaloon lumban tobing) sy,
    *apa hak dan kewajiban sy selaku cu2 dan anak, mnurut adat batak?
    *opung sy meninggalkan warisan brupa bgunan&tnah (lokasi: medan &tarutung), “sbrpa besar hak saudara perempuan ayah sy dan sbrpa bsar hak sy pribadi (krna ayh sy sdh tak ada)?

  15. Bona_tobing permalink
    Agustus 13, 2012 10:03 am

    Bang maaf,
    boleh di kirim kan ke saya ya? cofyan uraian diatas mengenai pembagian hak waris menurut adat batak toba trsebut ?

  16. Paratatobing permalink
    September 25, 2012 12:54 pm

    Mohon petunjuknya, ada adek bapak marga tobing dan istrinya marga panggabean mengangkat anak laki dan perempuan, kemudian adek bapak dan istrinya meninggal, sementara surat surat ttg harta yang ditingggalkan dipegang oleh ito dari istri adek bapak tsbt. Pdhal Abang dan adeknya kandung marga tobing dari yg meninggal ini msh hidup Surat itu menurut anak angkatnya diperintahkan oleh mamak angkatnya agar surat tsb diantar ke tulangnya (ito mamak angkatnya) dan sd skrg msh sm mrk dan tidak diserahkan kepihak marga tobing. Mhn ptjk, tks.

    • paul silalahi permalink
      Mei 9, 2013 12:49 pm

      lakukan dahulu pendekatan kekeluargaan dan beri penjelasan bahwasannya pihak keluarga tobing yang memegang amanah penyelesaikan secara bijak dan arif. GBU

  17. paul silalahi permalink
    Mei 9, 2013 12:34 pm

    Perlu kajian yang mendalam dalam hukum adat dan hukum negara, pada prinsipnya warisan dibagikan berdasarkan kebutuhan yang diberikan para ahli waris dgn ikhlas tanpa intrik kepentingan lain2.

  18. September 13, 2013 4:19 am

    bagaimana bila warisan dr opung, turun ke anaknya laki2 (bapak saya) tp beliau sudah meninggal. Akankah bagian warisan bapak berhak ke adik saya (krn adik saya satu2nya yg laki2) ?

  19. Oktober 9, 2013 7:38 am

    Rekan Terhormat,
    Barangkali ada yang pernah mengalami hal yang sama, menangani penyelesaiannya atauide dan masukan yang dapat diberikan kepada saya tentang :
    Kami berasal dari satu desa kecil (Kampung) di Tapanuli Utara. Kedua orang tua kami sudah meninggal tahun lalu. Kami adalah marga Mninoritas di kampung tersebut.
    Pada awalnya, Ompung dari Bapa Saya yang merantau (dengan berbagai cerita sebagai alasannya pada jaman itu) ke kampung tersebut, kemudian dilanjutkan dengan Ompung Saya yang bertempat tinggal di sana sendirian, karena saudaranya yang lain juga merantau/pergi dari kampung tersebut. Bapa tua saya dan namboru saya semuanya ada 11 orang, tetapi yang tinggal disana adalah Bapa saya.
    Kami delapan bersaudara dan semuanya merantau, tidak ada yang tinggal di kampung tersebut.
    Setelah kedua orangtua kami meninggal, ada beberapa informasi yang mempermasalahkan keberadaan rumah kami disana. memang masih ada tanah berupa sawah dan kebun, namun bagi kami ( 8 bersaudara), rumah tersebut yang paling bernilai mengingat bahwa kami dilahirkan disana sehingga membuahkan kenangan yang sangat beragam.
    Pertanyaan saya adalah ” bagaimana posis kami dalam segi hukum, baik hukum formal mapun hukum adat batak toba. Sebagai informasi bahwa rumah tersebut sudah ditinggali oleh ompung kami sejak sekitar tahun 1920. Memang rumah tersebut tidak ada sertifikat, tetapi di kampung tersebut tidak satu rumahpun atau tanah yang memiliki sertifikat. Kami akan mempertahankan rumah tersebut, bagaimana caranya ditinjau dari hukum formal maupun hukum adat batak. sebelumnya saya ucapkan, saya Hartono Tambunan email : hartono.tambunan@yahoo.com.

Trackbacks

  1. Makalah Hukum Adat « yhiiie
  2. ADAT ISTIADAT SUKU BATAK | Paskalinanotanubun's Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 204 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: