Skip to content

Perkara Prita,Saat Keadilan Direcehkan…

Desember 14, 2009

Perseteruan antara Prita Mulyasari dan Rumah Sakit Omni Internasional, apa boleh buat telah menjadi urusan publik. Masyarakat banyak pun telah memihak, membela Prita. Maklum, Prita adalah sosok rakyat kebanyakan sedangkan Omni ditempatkan sebagi sosok eksklusif yang memiliki kekuatan uang.

Prita yang mengeluhkan pelayanan kesehatan dari Omni digelandang ke pengadilan. Pidana dan perdata. Perdata sudah kalah, majelis hakim Pengadilan Negeri Tangerang membebankan denda ratusan juta pada Prita. Diperkirakan nasib yang sama akan dialaminya juga untuk pidana. Pintu penjara untuknya terbuka lebar.

Gelombang bantuan untuk Prita dari masyarakat pun mengalir, terutama lewat penggalangan koin keadilan untuk Prita. Tak ada kasta di sini. Bahkan pelacur pun menyisihkan recehnya

DUA perempuan itu duduk di sofa kusam. Kakinya bersilang dengan betis menjuntai. “Mampir mas. Jangan jalan terus nanti capek,” ujar seorang perempuan kepada wartawan Vivanews, Kamis lalu. Matanya melirik menggoda.

Ini daerah Kremil, salah satu surga lelaki hidung belang di Surabaya. Di depan satu wisma ada plat seng warna merah bertuliskan “Anggota TNI Dilarang Masuk”.

Terletak di ruas jalan Tambak Asri, Surabaya Timur, kawasan Kremil ini memuat puluhan rumah bordil. Dari gang satu sampai tigapuluh kita melihat ribuan perempuan pekerja seks menjajakan tubuh. Berdiri sejak 1960an, Kremil adalah salah satu tempat pelacuran terbesar di Surabaya.

Tapi, coba simak apa yang dilakukan dua perempuan itu, sebut saja Dina dari Jombang dan Weni dari Kediri. Pekan lalu, mereka berhenti sejenak lirak-lirik hidung belang. “Mas, di sini ada pengumpulan koin buat Prita,” ujar Dina.

Prita Mulyasari, ibu dua anak yang dikalahkan perdata Pengadilan Tinggi Banten gara-gara menyebarkan surat keluhannya atas pelayanan RS Omni Internasional ke jaringan milis. Prita kalah secara perdata, dia harus membayar Rp 204 juta.

Berkeliling kompleks, para perempuan Kremil itu membawa satu kotak bertuliskan “Koin untuk Prita”. Hasilnya lumayan. Pada Selasa pekan lalu, hasil keluar masuk gang di sana terkumpul Rp 1 juta. Setiap hari ada orang melempar koin ke kotak yang diasong para perempuan itu. Kini, uang koin yang terkumpul sudah lebih dari Rp 2 juta. Mereka siap mengirimkannya kepada Prita.

Kisah Prita itu rupanya dengan cepat menyebar. Baik Dina maupun Weni mengaku mendengar soal Prita dari media masa. Rasa keadilan mereka pun terkoyak. Dina tak mengerti mengapa orang mengeluh lalu bisa dihukum. “Tolong ceritakan, mengapa Prita dihukum?”, Weni bertanya.

***

Wartawan Vivanews yang bertandang ke Kremil, Kamis pekan lalu, diminta dua perempuan itu menjelaskan kembali riwayat perkara Prita. Keduanya pun menyimak takzim.

Prita menderita demam tinggi  pada 7 Agustus 2008 lalu. Suhu tubuhnya 39 derajat. Lalu ibu dua anak yang bermukim di Tangerang Selatan, Banten, datang ke RS Omni Internasional Alam Sutera, Tangerang, Banten.

Di rumah sakit, darahnya diperiksa. Hasilnya, dikatakan trombosit anjlok hingga 27 ribu, padahal angka normal 200 ribu. Prita diharuskan menjalani rawat inap di bawah perawatan Hengky Gozal. Dokter menyatakan dia positif demam berdarah. Kemudian dia diinfus dan diberi suntikan.

“Suntikannya apa mas,” Weni menyela. “Trombosit itu apa?”

Sehari dirawat, Henky mengatakan hasil tes darah itu salah. Sebenarnya, trombositnya 181 ribu, bukan 27 ribu. Tapi dokter itu tetap bilang Prita demam berdarah.

Dua hari dirawat, kondisi Prita tak kunjung membaik. Demamnya tetap tinggi. Tangan membengkak. Sorenya, Hengky datang lagi ke ruang perawatan Prita. Dia bilang, Prita diserang virus udara. Malamnya, Prita disuntik dua ampul, dia sesak nafas.

Esoknya, Prita minta infus dan suntikan dihentikan. Keluarganya juga mulai gelisah melihat kondisi Prita, lehernya mulai bengkak. Kondisi yang tak karuan, membuat Prita minta penjelasan soal angka trombosit berbeda. Tapi, dokter tak memberi jawaban yang jelas.

Pada 12 Agustus 2008, leher Prita semakin membengkak. Panasnya naik 39 derajat. Prita meminta hasil rekam medis. Tapi, yang diterimanya cuma pemeriksaan laboratorium yang trombosit menunjukkan 181 ribu. Sedangkan hasil tes 27 ribu, tak ada. Alasannya, hasil itu tidak dicetak. Prita kesal. Dia ingin bertemu manajemen rumah sakit itu.

Lalu, datang dr Grace Hilza, manajer pelayanan pasien RS Omni. Tapi hasil laboratorium trombosit 27 ribu itu tetap tak diberikan. Dikatakan, penyakitnya bukan demam berdarah, tapi gandongan. Prita memutuskan pindah ke rumah sakit lain di Bintaro.

Prita membagi pengalamannya yang ditulis melalui surat elektronik kepada sepuluh orang, pada 15 Agustus 2008. Masuk ke berbagai milis. Jaringan maya itu cepat menyebar. Omni menuai cercaan.

Dina yang sekolah hingga kelas tiga SMP, mengatakan tidak mengerti tulisan Prita di Milis. “Milis itu apa sih mas?”

Email itulah yang memicu persoalan hukum. RS Omni bersama Hengky dan Grace menggugat pidana dan perdata Prita. Tulisan Prita dianggap mencemarkan nama Omni beserta Hengky dan Grace. Prita diperiksa polisi, bahkan pernah dijebloskan ke dalam penjara wanita oleh Kejaksaan Negeri Tangerang.

Omni menggugat Prita secara perdata pada 24 September 2008. Pada 11 Mei 2009, Prita diputus kalah di Pengadilan Negeri Tangerang. Dia diharuskan bayar ganti rugi untuk rumah sakit Rp 300 juta. Prita banding ke pengadilan tinggi. Majelis hakim dalam putusannya pada 19 Oktober lalu, kembali membuat Prita terkapar. Dia dibebankan ganti rugi Rp 204 juta.

Saat didera kekalahan berantai di peradilan perdata itu, Prita sibuk pula menghadiri persidangan pidananya. Prita dibidik pasal 310 dan 311 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pencemaran nama baik. Dia diancam hukuman enam bulan penjara.

Mungkin, karena kasus hukumnya agak ruwet, Dina dan Weni tak sepenuhnya mengerti. Tapi mereka paham sesuatu telah berjalan mencong. Keadilan terasa begitu jauh.  “Kasihan, orang kecil selalu salah,” kata Dina. Dia berharap, Prita bebas.

Itu sebabnya dia merelakan uang receh, dan mengajak yang lain mengumpulkan koin sisa belanja untuk membayar denda perdata Prita. “Saya ambil celengan saya, dan saya berikan,” kata Dina.  “Kami rela, meski kami bekerja seperti ini,” ujar Weni menambahkan.

Keduanya berkali-kali mengasong kotak itu, memburu koin di gang-gang sempit Kremil.

Aksi pengumpulan uang receh ini digerakkan para blogger setelah Prita dikalahkan Omni di tingkat banding di Pengadilan Tinggi Banten. Gagasan ini mulai didiskusikan di mailing list (milis) Sehat Group pada Kamis dua pekan lalu. Isinya ajakan mengumpul koin untuk Prita. Tujuannya menyindir dunia peradilan, sekaligus membantu Prita.

Aksi ini bergulir cepat. Sejumlah posko Koin Peduli Prita pun berdiri di Jakarta dan beberapa kota lainnya. “Posko dari komunitas kami saja ada 10 posko. Belum lagi yang di luar komunitas kami,” kata Esti, koordinator Posko Koin Peduli Prita kepada VIVAnews, Sabtu 5 Desember 2009. Posko itu berada di Komplek PWR, Jalan Taman Margasatwa, Jatipadang, Jakarta Selatan. Mereka adalah komunitas ibu rumah tangga. “Kami hanya kumpulan para orang tua saja. Kami tahu lah, Mba Prita itu ibu rumah tangga dan masih menyusui,” ujar Esti.

Jika dijumlahkan dengan Posko Peduli Prita yang didirikan komunitas blogger, maka totalnya ada 15 Posko Koin Peduli Prita.

Simpati mengalir kencang. Banyak orang menyumbangkan koinnya. Tak hanya orang dewasa, aksi solidaritas ini juga mengalir hingga ke para bocah. Contohnya, seorang anak berusia tujuh tahun menenteng celengannya yang penuh koin dan menyerahkannya ke Posko Langsat, Jakarta Selatan, pada Rabu 9 Desember 2009.

Di Posko Langsat ini pula datang bocah perempuan kelas 2 SD Gunung 3 Pagi, Jakarta Selatan. Rere, panggilan si dara kecil ini, menyerahkan koin terbungkus serbet dapur.  “Ini uang kembalian belanja di rumah,” kata Rere.

Dari Surabaya dilaporkan, 3.500 siswa Yayasan Khodijah mulai dari TK hingga SMA, memecahkan celengannya bersama-sama pada Kamis 10 Desember 2009. Koinnya dimasukkan ke kotak besar bertuliskan “Koin untuk Prita”.  Satu siswa berjilbab putih sambil membawa sepucuk kertas membaca puisi.

“Hari terus berjalan/ langkah tertatih menahan kepedihan/ Amarah yang berawal menjadi kebenaran/ terus menghujat tanpa perikemanusiaan/ Sabarlah Ibu Prita deritamu pasti akan sirna/ berjuta mendukung dengan doa”.
“Kami ingin membantu Bu Prita. Semoga pengadilan bisa menegakkan keadilan di Indonesia,” kata Adelia, siswi kelas VIB SD Khodijah Surabaya.

Pengumpulan koin ini akan ditutup pada 14 Desember 2009. Direncanakan segunung koin ini akan diserahkan pada Prita pada 17 Desember 2009.  “Seluruh koin akan dihitung, semuanya kita serahkan kepada Prita,” kata Yusro M Santoso di posko pengumpulan koin, Jalan Langsat, Jakarta, Jumat 10 Desember 2009.

Dia bilang, penghitungan koin disaksikan seluruh komunitas. Misalnya blogger, kaskuser, komunitas ahli hukum dan notaris. Sejauh ini, Yusro mengaku belum tahu jumlah koin itu. “Belum dihitung,” kata Yusro. Di posko ini, tampak koin untuk Prita dikemas dalam 10 karung, 10 kotak berbagai ukuran. Ada juga enam celengan, belasan toples, dan puluhan plastik.

Barangkali karena gerah direcehkan oleh masyarakat sekujur negeri, RS Omni menawarkan perdamaian kepada Prita. Pihak rumah sakit itu merasakan tekanan yang besar secara sosial. “Kami tidak ingin memperpanjang masalah ini,” kata Direktur Omni Internasional, dr Bina Ratna.

Selain itu, dr Bina juga menyatakan mencabut gugatan perdata dan menghapus kewajiban membayar ganti rugi Rp 204 juta yang telah diputus Pengadilan Tinggi Banten. “Sedangkan untuk kasus pidana, pada prinsipnya kami menghargai proses hukum,” katanya. Dia berharap upaya yang dilakukan pihaknya menjadi pertimbangan majelis hakim.

Tawaran damai ini justru mengundang kecurigaan. OC Kaligis, kuasa hukum Prita, menilai Omni sedang menyusun strategi licik. Soalnya, Omni tak menghentikan perkara pidana. “Strateginya adalah agar simpati masyarakat berhenti, dan Prita masuk penjara.”

Sumber : VivaNews.com

13 Komentar leave one →
  1. Desember 14, 2009 5:51 am

    Begitulah kalau keadilan diremehkan, orang2 pada reseh akhirnya dihargai dengan receh

  2. Desember 14, 2009 10:14 am

    Semoga keadilan bisa ditegakkan

    Hi salam kenal just blogwalking doang. main dong ke blog saya

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/nais-inpo-gan/mrlist/1234/

    http://blog.unsri.ac.id/kaskuserr/news/mrlist/1233/

    dijamin bikin KETAGIHAN..!!!

    salam

    (^_^)

  3. Desember 15, 2009 4:06 am

    mmm kasus pidana diteruskan??/ada apakah gerangan???

    kenjungan perdana nih,salam kenal ya:-D

    • Desember 15, 2009 3:11 pm

      yaH..begituLah hukum di Indonesia…

      kasus yg kecil dibesar2 kan…

      padahal untuk kasus korupsi besar2an ditutup2 i….

      thanks atas kunjungannya…..

      lam kenal jg….

      • Desember 16, 2009 3:02 am

        miris bgd,saia sebagai rakayat Ind merasa dibodoh2i,..

  4. Desember 16, 2009 1:37 pm

    semoga kasus ini cepat terselesaikan….dan semoga ibu prita segera mendapatka keadilan demi ketenangan dalam hidupnya…

    salam kenal dan terima kasih untuk kunjungannya yach😀

    • Desember 17, 2009 5:51 pm

      saya harap juga begitu…..

      salam kenal juga…

      terimakasih juga udah berkunjung ke blog q…

  5. Desember 17, 2009 5:30 am

    Yuk dukung Koin Prita Masuk Guinnes Books of Records; spy dokter-dokter tambah malu… baca ya di sini:

    http://kalipaksi.com/2009/12/16/guinness-world-records-untuk-koin-prita/

  6. April 10, 2010 5:56 am

    sungguh ironis yah?

    nasib seprti itu, sangat menyedihkan, blog INI MANTAP. saya dukung anda, terimakasih, salam kenal semua..
    🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: