Skip to content

Catatan Ringan Tentang Contempt of Court di Indonesia

November 7, 2009

Akhir-akhir ini sering terlihat secara langsung maupun di media, suasana ruang sidang dalam perkara pidana tidak ubahnya seperti pasar yang tanpa aturan. Para pengunjung sering berteriak-teriak di pengadilan, bertepuk tangan, mencemooh terdakwa, saksi maupun hakim dan terkadang terdapat lemparan ke arah hakim. Pertengkaran antara penasehat hukum dengan jaksa maupun hakim,  juga menjadi pemandangan khas persidangan di Indonesia. Namun hakim dalam hal ini sangat jarang melakukan penegakan hukum atas tindakan-tindakan yang memalukan dan menjatuhkan kewibawaan pengadilan tersebut

Tidak hanya sekedar perbuatan di depan pengadilan, tindakan-tindakan yang melecehkan pengadilan juga sering sekali terjadi di luar pengadilan baik melalui media cetak maupun elektronik.

Tindakan-tindakan seperti ini sangat meresahkan sistem peradilan di Indonesia. Selain akan sulitnya mendapatkan suatu proses peradilan yang sifatnya sakral dan terhormat, putusan pengadilan juga dapat diintervensi melalui perbuatan-perbuatan tidak terhormat seperti itu. Sehingga integritas dan independensi hakim sebagai penegak hukum dapat terganggu. Dengan demikian keadilan yang seharusnya diperoleh dari proses peradilan kini berubah menjadi kepentingan golongan yang dapat mengintervensi peradilan.

Pelecehan-pelecehan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menjadi suatu kesalahan fatal di masa mendatang. Ketika masyarakat tidak lagi menghormati proses peradilan, tidak lagi menganggap pengadilan adalah lembaga yang harusnya sakral bagi orang-orang yang bersalah. Orang-orang dengan semaunya bisa berkata-kata di depan persidangan tanpa menghiraukan pejabat negara yang bertugas dalam persidangan tersebut. Dengan demikian efek jera dalam hukum pidana tidak berfungsi dengan baik.

Suatu persidangan yang didalamnya terdapat pelecehan-pelecehan sedikit banyaknya akan berpengaruh pada putusan hakim. Hakim tidak dapat lagi memutuskan suatu perkara dengan keyakinan dan hati nuraninya dengan adanya intervensi bahkan ancaman yang diterimanya pada proses peradilan. Dapat kita bayangkan bagaimana seorang hakim yang dalam memeriksa seorang terdakwa yang memiliki banyak massa pendukung yang dalam proses peradilan selalu mengancam dan mencemooh hakim. Hakim sebagai manusia juga pasti akan merasa takut jika ancaman yang diterimanya adalah ancaman yang serius terhadap dirinya. Begitu juga dengan ancaman dan intervensi dari korban, keluarga korban, kerabat korban maupun orang lain yang bersimpati pada korban yang pada dasarnya meminta agar hakim memutus hukuman yang berat kepada terdakwa. Semua itu akan menjadi pertimbangan hakim yang pada akhirnya akan berpengaruh besar pada putusan yang dijatuhkan pada terdakwa. Dalam hal ini putusan yang dikeluarkan oleh hakim tidak lagi bersifat objektif menurut hati nurani dan keyakinan hakim  itu sendiri namun ada pertimbangan  lain yang menjadikan putusan hakim menjadi tidak objektif.

Pada dasarnya di Indonesia sudah diatur mengenai Contempt of Court baik dalam KUHP maupun KUHAP. Namun tidak ada yang merumuskan secara pasti tindakan-tindakan apa yang dikategorikan sebagai Contempt of Court. Selain itu, dalam mengadili Contempt of Court yang terjadi di Indonesia sangat berbeda dengan  negara yang menganut Common Law System.  Apabila terjadi penghinaan terhadap pengadilan yang dilakukan secara langsung dimuka persidangan maka seorang hakim mempunyai kekuasaan untuk langsung mengadili dan memidana pelaku, sedangkan di Indonesia hakim hanya mempunyai kekuasaan untuk mengeluarkan pelaku dari ruang sidang saja tanpa memberikan sanksi pidana. Untuk menjatuhkan sanksi pidana kepada pelaku maka harus dilihat sebelumnya apakah tindakan pelaku sesuai dengan tindakan yang diatur dalam KUHP atau  tidak, jika tindakan tersebut termasuk dalam tindakan yang diatur dalam KUHP maka baru dilakukan proses penyidikan dan penuntutan. Adapun pasal-pasal yang mengatur Contempt of Court yang tersebar dalam KUHP antara lain : Pasal 210 dan 420 mengenai suap kepada dan dari hakim, Pasal 217 mengenai sikap gaduh dalam ruang sidang, Pasal 224 dan 552 mengenai ketidak-hadiran sebagai saksi, Pasal 220 mengenai pengaduan palsu, Pasal 221 dan 223 mengenai  meyembunyikan orang melakukan kejahatan atau menolong orang melepaskan dari yang ditahan, Pasal 231 mengenai menarik barang dari sitaan Pasal 232 mengenai merusak segel, Pasal 233 mengenai merusak barang bukti, Pasal 393 bis mengenai pengacara yang memasukkan keterangan tidak benar dalam surat gugatan cerai. Adapun yang terdapat dalam KUHAP terdapat pada Pasal 218 KUHAP mengenai implementasi sikap gaduh dalam dalam ruang sidang dan Pasal 161 KUHAP mengenai saksi yang dikenakan sandera selama 14 hari dalam tahanan karena menolak bersumpah atau berjanji (Adji 2007: 216).

Lemahnya kekuasaan hakim dalam menghadapi Contempt of Court menjadi sebuah celah dalam sistem hukum Indonesia bagi orang-orang yang ingin sebuah proses persidangan tidak berjalan semestinya dengan suatu intervensi dan intimidasi terhadap majelis hakim maupun pengadilan, sehingga penegakan hukum terhadap Contempt of Court ini dapat menjamin kepastian hukum di Indonesia.

Terinspirasi dari Pemikiran Bang Asweri Marpaung

6 Komentar leave one →
  1. November 9, 2009 4:07 pm

    makasih atas komentar yang tidak berhubungan dengan postingan gwa….okey saya pasang link nya silahkan di cek

  2. Yep permalink
    November 10, 2009 7:03 am

    Link sudah aku add dengan nama Rudini Silaban 😉
    Sorry agak terlambat 🙂

  3. November 10, 2009 10:16 am

    maaf kalau komentar ini OOT,

    mau mengkonfirmasi bahwa blog ini sudah tercantum di halaman anggota bloggerSUMUT.net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: