Skip to content

Wakil Rakyat Tidur Waktu Sidang???

November 18, 2008

Sikap para pejabat tidur disaat rapat itu jelas bukan berita aktual. Media massa seringkali mengekspose hal itu. Bahkan tahun delapan puluh sekian, Iwan Fals terang-terangan mengkritik wakil-wakil rakyat yang suka tidur justru pada saat membicarakan nasib rakyat. Tetapi yang baru dari soal kebiasaan tidur saat rapat adalah ketika seorang presiden menegur peserta rapat saat ia berpidato. “Anda ini dipilih langsung oleh rakyat. Malu pada rakyat. Anda malah tidur saat membicarakan rakyat. Jangan main-main dengan tanggungjawab!” begitu kira-kira teguran sang presiden.

Memang tidurnya sih biasa. Tapi teguran kepada yang tidur di depan forum resmi dan dilakukan oleh presiden, seingat saya baru kali ini terjadi. Jadi soal tidur itu sudah basi, tapi soal teguran itu sangat faktual, bukan? Bahkan dalam ’emosi yang sesaat’ presiden mengatakan “jangan diluluskan itu peserta yang tidur”.

Marilah kita sedikit tenggang rasa, bagaimana rasanya bila anda seorang guru, dan murid-murid anda tidur saat anda memberikan pelajaran. Atau bila anda seorang pendeta atau pastor,saat anda memberikan ktbah di altar umat anda malah acuh tak acuh terhadap kotbah anda.

Dugaan saya, anda pasti akan ‘marah’ merasa tidak dihargai, disepelekan, direndahkan. Itu juga mungkin yang dirasakan pak presiden.

Tapi bagi saya, jika orang tidak memperhatikan apa yang kita bicarakan, atau tidak tertarik dengan pembicaraan kita, mungkin itu disebabkan oleh setidaknya 5 hal :

  • pertama, karena topik/temanya tidak menarik. Kenyataannya yang menarik bagi seseorang belum tentu menarik bagi orang lainnya. Ada orang yang suka dengan berita-berita politik, ada yang suka berita kriminal, tapi ada juga yang tidak mau ketinggalan sedetikpun acara infotainment dan gosip selebriti. Jadi, mungkin yang disampaikan pak presiden mungkin tidak termasuk dalam tema yang ‘menarik’ menurut peserta yang tidur itu.

  • Kedua, bisa jadi karena cara membawakannya atau cara mempresentasikannya. Ini bisa menyangkut soal bahasa verbal maupun fisiologis. Ada orang yang bahasanya menarik tapi fisiologisnya tidak menguatkan pesan yang ingin disampaikan. Ada yang fisiologisnya bergerak begitu atraktif tapi pesannya dangkal-dangkal saja.

  • Ketiga, mungkin karena lawan bicara atau yang mendengarkan kita sudah tahu apa yang kita bicarakan. Karena merasa sudah tau atau bahkan ‘sok tau’ maka lawan bicara kita mem-block inderanya.

  • Keempat, karena nggak mudeng (tidak mengerti) apa yang disampaikan. Ini ada beberapa kemungkinan. Bisa jadi karena yang dibicarakan bukan hal-hal yang dikuasai atau karena cara dan bahasanya terlalu rumit atau memang karena (agak) pilon sehingga agak sulit mencerna informasi, alias lemot(Pentium 2). Berarti ada kemungkinan peserta rapat yang tidur itu adalah member dari piloners atau bisa juga karena bahasan pak presiden terlalu sulit untuk dia mengerti.

  • Kelima, karena orang tidak suka pada kita sehingga apapun yang kita bicarakan, sebaik apapun nasehat kita, tidak akan didengarnya. Apakah mungkin peserta rapat yang tidur itu bukan dari parpol pendukung setia pak presiden atau dari parpol oposisi, musuh politik yang selalu menentang kebijakan presiden?

Yang jelas dan yang terjadi adalah seorang kepala daerah tidur saat rapat yang membicarakan tentang rakyat, itu jelas-jelas menyimpang dari amanat rakyat.sama halnya dengan anggota DPR dan MPR yang rapat di senayan dalam pembentukan undang-undang ataupun rapat tahunan selalu banyak yang tidur dan banyak pula yang tidak hadir.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: